Siaran Langsung TV

YANG TERKINI

KLASEMEN

Group A PD M S K POIN
Russia 2 2 0 0 6
Uruguay 2 2 0 0 6
Egypt 2 0 0 2 0
Saudi Arabia 2 0 0 2 0
Group B PD M S K POIN
Spain 2 1 1 0 4
Portugal 2 1 1 0 4
Iran 2 1 0 1 3
Morocco 2 0 0 2 0
Group C PD M S K POIN
France 2 2 0 0 6
Denmark 2 1 1 0 4
Australia 2 0 1 1 1
Peru 2 0 0 2 0
Group D PD M S K POIN
Croatia 2 2 0 0 6
Iceland 1 0 1 0 1
Argentina 2 0 1 1 1
Nigeria 1 0 0 1 0

Video

SEJARAH


1930

1934

1938

1950

1954

1958

1962

1966

1970

1974

1978

1982

1986

1990

1994

1998

2002

2006

2010

2014

Piala Dunia 1930

Debut Indah yang Awalnya Berantakan

Sesuatu yang besar dan indah seringkali diawali dengan ketidakberaturan. Edisi perdana Piala Dunia 1930 di Uruguay lebih dekat dengan kesan berantakan ketimbang menawan.

Piala Dunia 1930 diikuti oleh 13 tim, sebuah angka yang ganjil. Mesir urung bergabung karena ketinggalan kapal. Tim-tim besar Eropa semodel Italia, Spanyol, Belanda, dan Swedia enggan berpartisipasi karena sakit hati tak dipilih menjadi tuan rumah.

Prancis bersedia datang karena bujukan Jules Rimet, yang waktu itu menjabat sebagai Presiden FIFA. Tapi, Les Bleus hadir tanpa pelatih Gaston Barreau dan striker terbaiknya, Manuel Anatol, yang memilih tinggal di rumah.

Proses konstruksi arena utama, Estadio Centenario, juga membuat FIFA ketar-ketir. Pembangunan stadion melibatkan kerja lembur tanpa henti selama satu tahun, di mana dalam sehari pengerjaan berlangsung 24 jam. Stadion baru selesai lima hari menjelang turnamen.

Kekacauan masih terasa sampai Piala Dunia 1930 memainkan laga puncak, yang mempertemukan tuan rumah Uruguay dengan Argentina.

Waktu itu belum ada bola resmi kejuaraan. Masing-masing tim ngotot memakai bola yang mereka bawa.

Alhasil, wasit memutuskan bahwa masing-masing tim boleh memakai bola favoritnya pada satu babak. Undian koin digunakan untuk menentukan giliran penggunaan bola.

Argentina lantas mendapatkan kesempatan menggunakan bola produksi negara mereka pada babak I.

Namun, justru Uruguay yang bisa unggul cepat via gol Pablo Dorado pada menit ke-12. Tuan rumah akhirnya berpesta karena mampu menutup laga dengan kemenangan 4-2.

Uruguay melanjutkan kedigdayaan mereka. Sebelum menjuarai Piala Dunia 1930, La Celeste juga meraih titel juara Olimpiade 1924 dan 1928. Pesta terasa lengkap karena gelar Piala Dunia hadir tepat pada perayaan 100 tahun kemerdekaan Uruguay.

Tuan Rumah: Uruguay

Tanggal: 13-30 Juli 1930

Gol: 70

Kontestan: 13

Jumlah Laga: 18

Pencetak Gol Terbanyak: Guillermo Stabile (Argentina/8 gol).

Piala Dunia 1934

Kelindan Taktik dan Propaganda

Italia tampil sebagai tuan rumah Piala Dunia 1934 dan mengakhiri turnamen dengan raihan trofi juara di tangan. Tapak sukses Gli Azzurri ke tangga kampiun diwarnai dengan pameran taktik brilian Vittorio Pozzo plus sejumlah keputusan kontroversial wasit.

Olahraga dan politik berkelindan di Piala Dunia 1934. Waktu itu, tuan rumah Italia berada dalam rezim fasisme pimpinan Benito "Il Duce" Mussolini.

Pergelaran Piala Dunia pun dijadikan alat propaganda Mussolini. Il Duce sadar bahwa kejayaan di Piala Dunia akan menjadi terompet sempurna untuk mengumandangkan fasisme ke seluruh penjuru bumi.

Lantaran dihelat di Eropa, Piala Dunia 1934 kebanjiran peminat. Italia 1934 menyertakan fase kualifikasi guna menyaring 32 tim menjadi 16.

Uruguay menolak berpartisipasi. La Celeste menjadi satu-satunya juara bertahan yang tak punya kesempatan mempertahankan gelarnya. Sikap itu adalah balasan Uruguay terhadap keengganan Italia berpartisipasi di Piala Dunia 1930.

Austria lantas muncul sebagai rival utama Italia menuju titel juara. Empat bulan sebelum Piala Dunia 1934 digelar, Gli Azzurri menyerah 2-4 kepada Austria, yang kala itu punya julukan Wunderteam.

Tapi, taktik jitu Vittorio Pozzo membuat Italia tak lagi inferior dari Austria. Pozzo adalah pelatih disiplin yang konon pertama kali memperkenalkan ritiro alias pemusatan latihan tertutup nan intensif.

Mahakarya Pozzo disebut metodo, taktik 2-3-2-3 yang bernama lain skema "WW". Memakai metodo Pozzo, Italia menekuk Austria 1-0 di semifinal.

Namun, kisah yang kemudian beredar menyebut bahwa kemenangan Gli Azzurri itu bukan murni kerja di atas lapangan. Mussolini memainkan perannya di belakang layar dengan mengajak wasit yang memimpin semifinal, Ivan Eklind, makan malam menjelang laga.

Secara ajaib, Eklind kembali memimpin laga final yang mempertemukan Italia vs Cekoslovakia. Gli Azzurri menang 2-1 dan menjadi juara Piala Dunia pertama dari Eropa.

Tuan Rumah: Italia

Tanggal: 27 Mei-10 Juni 1934

Gol: 70

Kontestan: 16

Jumlah Laga: 17

Pencetak Gol Terbanyak: Oldrich Nejedly (Cekoslovakia/5 gol).

Piala Dunia 1938

Saat Prancis Membenci Italia

Sepanjang Piala Dunia 1938 di Prancis, Italia menjadi tim yang paling dibenci. Bukan karena status sebagai juara bertahan, melainkan karena situasi politik saat itu.

Paham fasisme masih mengilhami Italia yang dipimpin Benito Mussolini. Ambisi Mussolini menyebarkan fasisme ke penjuru dunia membuat Italia begitu dibenci, termasuk dari Prancis yang menolak keras paham tersebut.

Sejak awal PD 1938, Italia kebanjiran rasa benci dari publik tuan rumah. Para pemain Italia malah memanaskan situasi, terutama ketika bersua Prancis di perempat final. Saat masuk ke lapangan Stade

Olympique de Colombes di Paris, skuat Italia mengenakan kostum hitam, bukannya warna putih yang kala itu sering mereka pakai. Hitam merupakan simbol dari fasisme Italia.

Tak cuma itu, sebelum kick-off, para pemain Italia mengacungkan tangan kanan mereka, memberi gestur salam fasisme. Wajar fan Prancis kian marah.

Ketika tim kesayangan harus tunduk 1-2 dari Italia, mereka menjadi pendukung garis keras semua tim yang harus Italia hadapi di sisa laga turnamen ini. Tapi, sikap publik Prancis tak berarti banyak karena Italia akhirnya kembali menjadi juara dunia.

Setelah menekuk Brasil 2-1 di semifinal, mereka mengalahkan Hungaria 4-2 di partai puncak.

Piala Dunia 1938 memunculkan sejumlah inovasi. Ini pertama kalinya diberlakukan aturan bahwa juara bertahan dan tuan rumah secara otomatis mentas di Piala Dunia.

Italia dan Prancis pun melewatkan sesi kualifikasi serta berhak mengisi dua dari total 16 slot partisipan. Aturan ini berlaku sampai Piala Dunia 2006 alias sempat berjalan selama 68 tahun.

Inovasi lain ialah penggunaan nomor punggung pada kostum tim.

Tuan Rumah: Prancis

Tanggal: 4-19 Juni 1938

Gol: 84

Kontestan: 15

Jumlah Laga: 18

Pencetak Gol Terbanyak: Leonidas (Brasil/7 gol).

Piala Dunia 1950

Tragedi Maracana, Pele pun Ikut Menangis

Tangis seorang bocah Brasil bernama Edson Arantes do Nascimento pecah tatkala dirinya mendengarkan siaran radio di suatu sore pada Juli 1950. Bukan cuma bocah itu yang berlinang air mata, tapi seluruh negeri berduka.

Edson Arantes do Nascimento atau Pele kelak menjadi legenda sepak bola Brasil. Ia mengantar Selecao menjuarai Piala Dunia 1958, 1962, dan 1970.

Namun, ketika masih berstatus fan, ia pernah merasakan kekecewaan yang begitu mendalam. Penyebabnya adalah kekalahan 1-2 Brasil dari Uruguay di laga penentuan Piala Dunia 1950.

Padahal, Selecao hanya butuh hasil imbang untuk mengamankan titel Piala Dunia di rumah sendiri.

Piala Dunia 1950 yang digelar di Brasil memakai format yang sedikit berbeda dari edisi-edisi sebelumnya.

Sebanyak 13 tim peserta dibagi dalam empat grup. Masing-masing juara grup lantas kembali dikumpulkan untuk saling diadu di fase grup final. Di fase grup final inilah Tragedi Maracana terjadi.

Brasil dan seisi Stadion Maracana yang sudah siap berpesta malah dihadapkan dengan sebuah tragedi besar. Selecao kalah 1-2 dan harus merelakan trofi juara kepada Uruguay.

"Saya menangis, menangis, dan menangis lagi," kata Pele, yang mengikuti jalannya laga via siaran radio di rumahnya. Untuk pertama kalinya, Pele, yang waktu itu baru berusia sembilan tahun, melihat sang ayah berlinang air mata.

Menurut laporan resmi, laga Uruguay vs Brasil disaksikan oleh 173.850 penonton. Namun, banyak yang menyebut jumlah riil massa di Maracana kala itu mencapai lebih dari 200 ribu orang!

Maracanazo menjadi sebutan untuk kekalahan Brasil dari Uruguay di partai pamungkas fase grup final Piala Dunia 1950. Alunan lagu kemenangan yang sudah dilatih Zizinho cs. selama sepekan urung bergema, pun jua atraksi tarian samba. Seluruh penjuru Brasil dirundung duka.

Tuan Rumah: Brasil

Tanggal: 24 Juni-16 Juli 1950

Gol: 88

Kontestan: 13

Jumlah Laga: 22

Pencetak Gol Terbanyak: Ademir (Brasil/8 gol).

Piala Dunia 1954

Perkenalan ‘Bola Itu Bulat’

Bola itu bulat. Tanpa Piala Dunia 1954, barangkali orang tak akan mengenal istilah populer dalam dunia sepak bola tersebut.

Hungaria berangkat menuju Piala Dunia 1954 di Swiss dengan predikat sebagai tim terbaik dunia. Magical Magyars, demikian sebutan untuk tim asuhan Gusztav Sebes yang bermaterikan nama-nama bintang semodel Ferenc Puskas, Sandor Kocsis, dan Nandor Hidegkuti.

Puskas dkk. merupakan peraih emas Olimpiade 1952. Modal keren lain mereka ke Swiss 1954 adalah rentetan 27 partai tak terkalahkan.

Pesta gol sudah menjadi semacam hobi. Permainan mengalir Hungaria, yang banyak terinspirasi dari taktik Danubian Whirl ala Hugo Meisl, sangat membingungkan lawan.

Karpet merah menuju podium juara bak sudah tergelar bagi Hungaria sejak fase grup. Anak asuh Sebes menang telak atas Korea Selatan (9-0) dan Jerman Barat (8-3). Brasil (4-2) dan Uruguay (4-2) lantas menjadi korban berikut Magical Magyars di fase perempat final serta semifinal.

Lawan di partai puncak terasa gampang, "cuma" Jerman Barat yang pernah mereka babat 8-3 di fase grup. Muncullah kemudian kutipan bersejarah "bola itu bulat" dan "laga berlangsung selama 90 menit".

Sepasang kalimat motivasi itu keluar dari mulut pelatih Jerman Barat, Sepp Herberger. Intinya Herberger ingin menekankan kepada pasukannya untuk percaya kepada keajaiban dan pantang menyerah.

Harapan Herberger terkabul. Jerman Barat menunjukkan semangat pantang menyerah dan mewujudkan episode ikonik dalam sepak bola yang lantas dikenang dengan sebutan "Keajaiban Bern".

Sempat tertinggal 0-2, Jerman Barat bangkit dan memaksakan skor imbang 2-2 saat keda babak. Kemenangan akhirnya didapatkan Der Panzer via gol Helmut Rahn, enam menit menjelang bubaran. Rentetan laga tanpa kalah Hungaria pun harus berakhir di angka 31.

Tuan Rumah: Swiss

Tanggal: 16 Juni-4 Juli 1954

Gol: 140

Kontestan: 16

Jumlah Laga: 26

Pencetak Gol Terbanyak: Sandor Kocsis (Hungaria/11 gol).

Piala Dunia 1958

Buah Persiapan Supermatang

Brasil tampil sebagai negara pertama yang mampu menjuarai Piala Dunia di luar benua kediaman. Kejayaan di Piala Dunia 1958 adalah buah dari persiapan supermatang Selecao.

Langkah Brasil menuju Swedia 1958 diiringi bayang-bayang kelam, yakni tragedi nasional Maracanazo pada edisi 1950 serta aksi brutal tim yang memicu lahirnya episode Battle of Berne di Swiss 1954.

Tak mau lagi hadir di Piala Dunia sebagai pecundang, Selecao melakukan persiapan intensif selama tiga bulan. Sebelum bertolak ke Swedia, Vava cs. melakoni serangkaian partai uji coba di Eropa sebagai bagian dari aklimatisasi.

Pesawat yang mengangkut kontingen Selecao tak hanya berisikan staf pelatih dan pemain, tapi juga dokter, psikolog, dokter gigi, dan tim pemantau. Fenomena yang belum menjadi perihal lazim pada masa itu. Segalanya dipersiapkan secara detail.

Dokter tim Brasil, Hilton Gosling, juga diberikan mandat menentukan markas Selecao. Hal yang menjadi pertimbangan utama Gosling dalam memilih markas adalah jarak dengan arena laga, kualitas lapangan latihan, dan cuaca setempat.

Gosling juga yang memunculkan Pele, remaja 17 tahun yang menjadi simbol Piala Dunia 1958. Pelatih Vicente Feola berpegang kepada masukan Gosling, yang memberikan lampu hijau. Pele memang datang ke Swedia dengan membawa cedera lutut yang didapatnya dalam laga uji coba kontra Corinthians.

Naluri Feola dan Gosling tak keliru. Mereka membidani kelahiran bintang besar. Pele berandil besar dalam kemenangan 2-0 Brasil atas Uni Soviet. Kontribusi lebih nyata dibuat Pele begitu Brasil menapak fase gugur.

Ia selalu mencetak gol di partai kontra Wales (1-0/1 gol), Prancis (5-2/3 gol), dan final versus Swedia (5-2/2 gol). Pele, yang delapan tahun sebelumnya menangisi Tragedi Maracana, didaulat menjadi Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 1958.

Tuan Rumah: Swedia

Tanggal: 8-29 Juni 1958

Gol: 126

Kontestan: 16

Jumlah Laga: 35

Pencetak Gol Terbanyak: Just Fontaine (Prancis/13 gol).

Piala Dunia 1962

Sirkus dan Pisang dari Garrincha

Brasil melalui sebagian besar perjalanan mereka di Piala Dunia 1962 tanpa sang mutiara, Pele. Tapi, tenang, Selecao masih punya Garrincha.

Sang Mutiara Hitam sekaligus bintang Brasil di Piala Dunia 1958, Pele, mengalami cedera paha saat Brasil memainkan partai pertama fase grup Piala Dunia 1962 kontra Meksiko (2-0). Partisipasi Pele di Cile 1962 pun berakhir prematur.

Kendati demikian, Garrincha kemudian muncul sebagai aktor utama keberhasilan Selecao menjuarai Piala Dunia 1962. Bagi Garrincha, lapangan hijau ibarat panggung pertunjukan.

"Ketika Garrincha sedang dalam performa terbaik, lapangan seperti arena sirkus. Bola ibarat hewan yang patuh dan pertandingan menjadi sebuah ajakan berpesta," ujar Eduardo Galeano, penulis asal Uruguay.

Di kaki Garrincha, bola tak hanya berubah layaknya hewan sirkus yang patuh, tapi juga pisang. "Itulah pertama kali kita mendengar istilah tendangan pisang. Koran lokal keesokan paginya menulis: 'Garrincha Datang dari Planet Mana?',” ujar striker Inggris, Jimmy Greaves, mengisahkan kehebatan Garrincha dalam buku Football's Great Heroes and Entertainers.

Brasil yang memuncaki Grup 3 menekuk Inggris 3-1 di perempat final. Sepasang gol kemenangan Selecao disumbangkan Garrincha, salah satunya lewat tendangan pisang ikonik.

Pemain yang memiliki teknik dribel aduhai itu kembali menggeliat di semifinal. Dwigol Garrincha mengantar Brasil menang 4-2 atas tuan rumah Cile.

Serangan demam parah tak menghalangi Garrincha berpartisipasi di laga puncak versus Cekoslovakia. Ia tetap menyuguhkan performa apik sekalipun tak menyumbangkan gol. Brasil menang 3-1 dan mengikuti jejak kesuksesan Italia (1934 dan 1938) yang mampu mengawinkan gelar Piala Dunia dalam dua edisi beruntun.

Tuan Rumah: Cile

Tanggal: 30 Mei-17 Juni 1962

Gol: 89

Kontestan: 16

Jumlah Laga: 32

Pencetak Gol Terbanyak: Garrincha (Brasil/4 gol), Vava (Brasil/4), Leonel Sanchez (Cile/4), Florian Albert (Hungaria/4), Valentin Ivanov (Uni Soviet/4), Drazan Jerkovic (Yugoslavia/4).

Piala Dunia 1966

Juara Tanpa Materi Terbaik

Materi terbaik bukanlah garansi lahirnya trofi. Inggris membuktikannya di Piala Dunia 1966.

Syarat utama menjuarai Piala Dunia antara lain adalah sebuah tim mesti memiliki belasan pemain kelas satu. Inggris, yang berstatus sebagai tuan rumah Piala Dunia 1966, hanya punya tiga: Gordon Banks, Bobby Charlton, dan Bobby Moore.

Pelatih Tim Tiga Singa, Alf Ramsey, sadar bahwa skuatnya tak banyak dihuni individu terbaik. Tugas Ramsey adalah mencari kombinasi dari materi yang biasa saja menjadi skuat juara.

Metode Ramsey sederhana. Bertahan secara dalam sampai lawan lelah dan bosan. Kemudian, salah satu dari penyerang medioker Inggris lolos dari pantauan musuh dan mencetak satu-satunya gol kemenangan.

Langkah Inggris menuju gelar juara terkesan sangat pragmatis. Laga fase grup kontra Uruguay (0-0), Meksiko (2-0), dan Prancis (2-0) dilalui Banks cs. tanpa sekali pun kebobolan.

Tim Tiga Singa kembali bermain solid dan menang 1-0 saat bertemu Argentina di perempat final.

Banks akhirnya memungut bola dari gawangnya di semifinal. Gawang Inggris dibobol oleh gol penalti Eusebio. Tapi, gol tersebut tak mencegah langkah Inggris ke partai puncak karena sebelumnya Charlton sudah bikin dua gol.

Inggris pun merengkuh trofi Piala Dunia pertama mereka usai menekuk Jerman 4-2 di final.

"Momen terindah saya adalah saat peluit akhir pertandingan berbunyi. Soalnya, saya bertugas menjaga Charlton selama 120 menit. Mereka pantas menjadi juara," kata libero legendaris Jerman, Franz Beckenbauer. "Kebersamaan membuat Inggris lebih kuat di Piala Dunia 1966," timpal bek Tim Tiga Singa, Jimmy Armfield.

Tuan Rumah: Inggris

Tanggal: 11-30 Juli 1966

Gol: 89

Kontestan: 16

Jumlah Laga: 32

Pencetak Gol Terbanyak: Eusebio (Portugal/9 gol).

Piala Dunia 1970

Rumah Inovasi dan Kreasi

Piala Dunia 1970 di Meksiko merupakan perhelatan kaya inovasi. Pemenangnya pun sangat mencerminkan identitas kompetisi.

Sejumlah terobosan diterapkan di Piala Dunia 1970. Aturan dua kali pergantian pemain mulai diberlakukan, demikian pula penggunaan kartu kuning dan kartu merah untuk mendukung kinerja wasit.

Meksiko 1970 menjadi turnamen pertama yang memakai satu tipe bola resmi bernama Telstar. Selain itu, aksi para bintang semodel Pele, Gerd Mueller, dan Gianni Rivera juga sudah bisa disaksikan via televisi berwarna.

Tak heran jika banyak orang menempatkan Meksiko 1970 sebagai salah satu edisi terbaik di sepanjang sejarah Piala Dunia. Label itu bukan cuma mengacu kepada deretan inovasi, tapi juga kreasi yang dibuat para personel Brasil.

Pada masa itu, Selecao dilimpahi oleh sejumlah pemain kreatif berteknik tinggi. Pelatih Brasil, Mario Zagallo, lantas menerapkan 4-2-4 demi mengakomodasi tumpah ruahnya talenta.

Selecao diperkuat Rivellino, jago gocek dengan kaki kiri brilian. Ada pula Jairzinho, yang seolah bisa melewati siapa saja berkat kecepatan dan kemampuan melakukan tusukan. Gerson? Ia pengatur permainan ulung dan bisa dengan mudah membidik pohon via operan jauhnya. Keberadaan Pele dan Tostao menambah kualitas Brasil.

Jairzinho cs. Pun tak terhentikan di Piala Dunia 1970. Cekoslovakia (4-1), Inggris (1-0), dan Rumania (3-2) digebuk di fase grup. Memasuki fase gugur, daya ledak ofensif Selecao kian kentara.

Peru, yang mengandalkan daun muda penuh potensi, Teofilo Cubillas, ditekuk 4-2 di perempat final. Brasil kemudian membekap Uruguay 3-1 di semifinal.

Lawan Selecao di partai puncak adalah Italia. Gli Azzurri seperti hanya menjadi penonton dari tarian samba indah pemain-pemain Brasil. Selecao menang telak 4-1. Tak ada juara dunia yang kebobolan sebanyak Brasil di 1970 (7 gol). Namun, tak ada pula tim yang menampilkan sepak bola superofensif nan cantik sebaik mereka.

Tuan Rumah: Meksiko

Tanggal: 31 Mei-21 Juni 1970

Gol: 95

Kontestan: 16

Jumlah Laga: 32

Pencetak Gol Terbanyak: Gerd Mueller (Jerman Barat/10 gol).

Piala Dunia 1974

Hiburan Tanpa Penyelesaian

Permainan atraktif Belanda begitu dipuja dan melegenda. Namun, tuan rumah Jerman Barat yang sukses menggondol trofi Piala Dunia 1974.

Sepak bola cantik Belanda garapan Rinus Michels sangat memukau mata. Tim Oranye memainkan permainan mengalir diiringi pergerakan nan cair. Totaalvoetbal, begitulah sebutan untuk aksi-aksi menghibur yang disuguhkan Johan Cruyff cs.

Belanda ibarat melewati jalan bebas hambatan menuju final. Seolah trofi juara sudah disiapkan untuk mereka. Tim Oranye menuju final dengan catatan mencetak 14 gol dan hanya sekali kemasukan dalam enam laga.

Namun, permainan seksi mereka harus berujung tanpa trofi. Kiprah anak asuh Michels antiklimaks.

Di laga final, Belanda kalah 1-2 dari Jerman Barat meski mampu lebih dulu bikin gol. Jerman Barat sekali lagi menunjukkan karakter hebat.

Mirip seperti di final Piala Dunia 1954 versus Hungaria, di mana Der Panzer juga berstatus sebagai kuda hitam dan kebobolan terlebih dahulu. "Ketinggalan satu gol bagus buat kami. Belanda mengendur dan kami bisa bangkit. Ketika Anda mengurangi kekuatan cengkeraman, sangat sulit kembali tampil dominan," kata libero Jerman Barat, Franz Beckenbauer.

Padahal, sebelum pertandingan dilangsungkan, pemain-pemain Jerman Barat sempat tak bisa menyembunyikan rasa minder.

"Di lorong menuju lapangan, kami berencana menatap mata mereka, untuk menunjukkan bahwa kami sebagus Belanda. Namun, saya tak dapat melakukannya. Mereka membuat kami merasa kecil," ujar penyerang Jerman Barat, Bern Holzenbein.

Apa yang ditampilkan Belanda menjadi sebuah atraksi hiburan tanpa penyelesaian. Hal itulah yang kemudian menjauhkan tangan Cruyff dkk. dari trofi. Sebaliknya, Jerman Barat punya penyelesai kelas wahid dalam rupa Gerd Mueller. Golnya memastikan kemenangan Der Panzer di final.

Tuan Rumah: Jerman Barat

Tanggal: 13 Juni-7 Juli 1974

Gol: 97

Kontestan: 16

Jumlah Laga: 38

Pencetak Gol Terbanyak: Grzegorz Lato (Polandia/7 gol).

Piala Dunia 1978

Tidak Seindah Hujan Konfeti

Argentina sukses menjadi juara Piala Dunia untuk pertama kali. Namun, jalan La Albiceleste menuju podium kampiun Piala Dunia 1978 tak seindah hujan konfeti warna-warni.

Ketika Piala Dunia 1978 digelar, Argentina, yang berstatus sebagai tuan rumah, berada di bawah rezim junta militer Jorge Rafael Videla. Sepak bola tak kebal terhadap diktatorisme Videla.

Ketua Komite Penyelenggaraan Piala Dunia 1978, Omar Actis, ditemukan tewas sebelum turnamen berlangsung. Andalan Jerman Barat, Paul Breitner, dan megabintang Belanda, Johan Cruyff, enggan berangkat ke Argentina.

Kontroversi terus bertebaran saat turnamen bergulir. Wasit asal Wales, Clive Thomas, meniup peluit akhir laga tepat saat Zico (Brasil) menyundul bola masuk ke gawang Swedia di fase grup putaran I.

Pemain Skotlandia, Willie Johnston, dipulangkan lantaran dituduh memakai doping. Padahal, Johnston hanya mengonsumsi obat demam.

Praktik kotor lain di Piala Dunia 1978 melibatkan Argentina. Sejak fase grup hingga putaran II, La Albiceleste selalu bermain belakangan sehingga mereka bisa mengetahui hasil-hasil rival.

"Sejujurnya saya tak tahu. Namun, rezim Videla melakukan banyak hal keji, lebih buruk dari suap. Namun, kami bermain luar biasa kontra Peru," kata penyerang Argentina, Leopoldo Luque.

Sukses memuncaki Grup B putaran II, Argentina lolos ke final guna berhadapan dengan Belanda. Lagi-lagi duel diwarnai dengan kontroversi.

Pemain-pemain Argentina mempertanyakan balutan pada tangan Rene van de Kerkhof. Laga kemudian tertunda dan Belanda sempat ingin mogok bertanding. Padahal, Van de Kerkhof mengenakan balutan serupa dalam lima laga sebelumnya.

Kondisi psikologis pemain Belanda pun kacau. Argentina akhirnya menang 3-1 dalam laga berdurasi 120 menit. "Saya tak bisa berkata bangga dengan kemenangan ini," ujar Luque.

Tuan Rumah: Argentina

Tanggal: 1-25 Juni 1978

Gol: 102

Kontestan: 16

Jumlah Laga: 38

Pencetak Gol Terbanyak: Mario Kempes (Argentina/6 gol).

Piala Dunia 1982

Juara Tanpa Balerina

Sepak bola bukan untuk balerina. Kutipan legendaris dari Claudio Gentile itu bisa merangkum perjalanan Italia menuju gelar juara Piala Dunia 1982.

Cerita intimidasi tanpa henti dari Gentile kepada bintang Argentina, Diego Maradona, mewarnai Piala Dunia yang berlangsung di Spanyol ini.

"Setiap kali hendak menerima bola, Gentile akan mencoba mematahkan pergelangan kaki saya," ujar Maradona yang baru berusia 21 tahun saat Piala Dunia 1982 digelar.

Secara total, Gentile melakukan 23 pelanggaran terhadap El Pibe de Oro alias setiap empat menit sekali! "Sepak bola bukan untuk balerina," ujar Gentile menyikapi pendekatan kerasnya kepada Maradona.

Maradona frustrasi. Sebaliknya, Italia berseri karena menang 2-1. Pada pertandingan berikut, Gli Azzurri mengalahkan penari balet lain, yakni Brasil (3-2) yang diperkuat Zico, Socrates, Falcao, dan Eder.

Anak asuh Enzo Bearzot tampil sebagai pemuncak grup dan berhak lolos ke semifinal. Kesuksesan yang sangat tak disangka oleh Italia. Soalnya, pada fase grup putaran I, Gli Azzurri hanya tiga kali bermain imbang kontra Polandia (0-0), Peru (1-1), dan Kamerun (1-1).

Namun, start berantakan itulah yang justru memicu kebangkitan Italia di fase grup putaran II. Bearzot meminta anak asuhnya bungkam kepada media. Aksi tersebut dikenal dengan nama silenzio stampa, yang pada kemudian hari banyak diadopsi oleh pelatih-pelatih modern.

Efek positif juga sangat dirasakan Paolo Rossi, yang baru saja bebas dari hukuman skandal pengaturan skor selama dua tahun. Usai gagal bikin gol di fase grup putaran I, Rossi langsung tiga kali menjebol gawang Brasil di putaran II.

Performa apiknya terus terjaga. Dwigol Rossi mengantar Italia menang 2-0 atas Polandia di semifinal. Legenda Juventus itu lantas menyumbang satu gol saat Gli Azzurri menekuk Jerman Barat 3-1 di partai puncak. Italia pun menjadi juara, meski tak banyak diperkuat oleh balerina terbaik.

Tuan Rumah: Spanyol

Tanggal: 13 Juni-11 Juli 1982

Gol: 146

Kontestan: 24

Jumlah Laga: 52

Pencetak Gol Terbanyak: Paolo Rossi (Italia/6 gol).

Piala Dunia 1986

Antara Tusuk Gigi dan Pemain Sakti

Pelatih Argentina di Piala Dunia 1986, Carlos Bilardo, percaya bahwa tusuk gigi yang kerap digigitnya mendatangkan hoki. Namun, modal terbesar La Albiceleste menuju tangga juara jelas bukan tusuk gigi milik sang ahli strategi.

Sepak bola sangat dekat dengan takhayul. Menjelang duel perdana di Piala Dunia 1986 versus Korea Selatan, Bilardo mendapati salah satu stafnya yang biasa memutar musik di bus tim jatuh sakit.

Merasa ada harmoni yang rusak, Bilardo pun memerintahkan agar tim menuju stadion dengan menggunakan taksi! Argentina menang 3-1 atas Korea Selatan.

Sejak saat itu, kontingen Argentina selalu bertolak ke arena laga dengan menaiki taksi. Bilardo terus memakai setelan serupa sampai akhir Piala Dunia serta mengunyah tusuk gigi yang ia dapatkan dari salah satu anak asuh. Ritual unik yang berujung gelar juara.

Namun, hoki terbesar Argentina sesungguhnya dipicu oleh pemain sakti bernama Diego Armando Maradona. Jika empat tahun sebelumnya di Spanyol 1982 Maradona jadi korban perundungan Claudio Gentile, El Pibe de Oro kian matang kala berkiprah di Meksiko 1986.

Maradona tampil sangat dominan. Sepanjang turnamen, El Pibe de Oro mengemas 5 gol dan 5 assist! Ia terlibat dalam 71,4 persen dari total gol Argentina. Maradona seperti sendirian mengantar La Albiceleste ke podium juara.

Aksi terbaik Maradona terjadi di perempat final melawan Inggris. Tim Tiga Singa merasa dikerjai usai wasit mengesahkan gol "tangan Tuhan" Maradona.

Namun, empat menit setelahnya, Gary Lineker hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan Maradona menari-nari melewati hadangan pemain-pemain Inggris untuk mencetak sebuah gol solo.

Maradona lantas menutup kiprah briliannya di Piala Dunia 1986 sebagai pelayan. Operan terukurnya melapangkan jalan Jose Burruchaga untuk memastikan kemenangan 3-2 Argentina atas Jerman Barat di partai puncak.

Tuan Rumah: Meksiko

Tanggal: 31 Mei-29 Juni 1986

Gol: 132

Kontestan: 24

Jumlah Laga: 52

Pencetak Gol Terbanyak: Gary Lineker (Inggris/6 gol).

Piala Dunia 1990

Jerman Barat Terbaik di Turnamen Terburuk

Jerman Barat keluar sebagai juara dengan mengalahkan Argentina 1-0 di perhelatan yang dianggap terburuk dalam sejarah Piala Dunia. Anggapan tersebut terkait minimnya total gol yang terjadi. Ya, di Piala Dunia 1990 hanya tercipta 115 gol atau rata-rata 2,21 gol setiap laga.

Argentina merupakan tim pertama yang tidak sanggup mencetak gol di final Piala Dunia. Selain itu, Pedro Monzon menjadi pemain pertama yang mendapat kartu merah di final Piala. Kartu merah Monzon juga tidak lepas dari awal munculnya trik diving oleh Juergen Klinsmann yang dianggap mencederai sportivitas sepak bola.

Di Piala Dunia 1990 juga terjadi perubahan drastis yang terjadi dalam sistem perolehan poin kemenangan dari dua poin menjadi tiga poin.

Franz Beckenbauer menjadi sosok pertama yang bisa menjuarai Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih bersama Jerman Barat. Piala Dunia di Italia tersebut adalah Piala Dunia terakhir sebelum Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu pada 3 Oktober 1990.

Tuan Rumah: Italia

Tanggal: 8 Juni - 8 Juli 1990

Gol: 115

Kontestan: 24

Jumlah Laga: 52

Pencetak Gol Terbanyak: Salvatore Schillaci (Italia/6 gol).

Piala Dunia 1994

Ketika Negara Paman Sam Merayakan Sepak Bola

Sepak bola mungkin bukan olahraga terpopuler di Amerika Serikat. Perhelatan Piala Dunia 1994 mengubah hal tersebut.

Pemilihan Amerika Serikat sebagai tuan rumah pun bukan tanpa alasan. Induk sepak bola dunia FIFA bertujuan mengenalkan sepak bola ke negara adikuasa tersebut.

Pada akhirnya Piala Dunia 1994 menjadi salah satu salah satu turnamen tersukses dengan rata-rata kehadiran penonton mencapai 69.000, memecahkan rekor yang saat itu dipegang Piala Dunia 1966 dengan 51.000 penonton.

Piala Dunia 1994 juga menjadi tempat untuk beberapa perubahan. Turnamen ini adalah turnamen terakhir yang memiliki 24 peserta; fase gugur diisi oleh 6 juara grup, 6 runner-up, dan 4 tim peringkat ketiga terbaik.

Di sini jugalah pemberian 3 poin untuk pemenang laga pertama kali diterapkan, setelah sebelumnya pemenang pertandingan hanya diberi 2 poin.

Akhir anti-klimaks dan tragedi

Piala Dunia 1994 seharusnya menjadi panggung terakhir legenda Argentina, Diego Maradona, usai bermain untuk Albiceleste pada tiga edisi Piala Dunia sebelumnya.

Nyatanya, kiprah Si Tangan Tuhan berakhir antiklimaks karena dia ditendang dari skuat Argentina. Gara-garanya, tes darah Maradona menunjukkan dia mengonsumsi ephedrine alias obat untuk membantu menurunkan berat badan.

Piala Dunia 1994 juga meninggalkan catatan kelam untuk tim nasional Kolombia. Kegagalan mereka lolos ke fase gugur dibayar mahal dengan terbunuhnya bek mereka, Andres Escobar, oleh suporter yang marah karena gol bunuh dirinya membuat Kolombia tersisih.

Pada akhirnya, Amerika Serikat juga menyaksikan Brasil meraih trofi Piala Dunia mereka sejak 1970, yang merupakan titel keempat tim tersebut. Brasil muncul sebagai tim terbaik di Piala Dunia 1994 setelah menang atas Italia via adu penalti pada babak final.

Tuan Rumah: Italia

Tanggal: 17 Juni - 17 Juli 1994

Gol: 141

Kontestan: 24

Jumlah Laga: 52

Pencetak Gol Terbanyak: Oleg Salenko (Russia) dan Hristo Stoichkov (Bulgaria) 6 gol

Piala Dunia 1998

Hegemoni Prancis di balik Penyakit Misterius Ronaldo

Piala Dunia 1998 di Prancis merupakan pertama yang diikuti oleh 32 peserta setelah pada edisi-edisi sebelumnya ada 24 partisipan.

Piala Dunia 1998 menjadi Piala Dunia dengan jumlah gol terbanyak sepanjang sejarah dengan 171 gol tercipta dari 64 laga.

Gelar Piala Dunia 1998 sendiri menjadi milik tuan rumah, Prancis.

Generasi emas Le Blues yang diperkuat pamain-pemain macam Zinedine Zidane, David Trezeguet, Thierry Henry dan Laurent Blanc mampu melaju mulus hingga babak final dengan hanya dua kali kebobolan sepanjang turnamen.

Di final, Prancis ditantang oleh juara Piala Dunia 1994, Brasil.

Pada laga puncak Prancis sukses menghajar Brasil dengan skor 3-0 berkat gol yang diciptakan Zinedine Zidane dan Emanuel Petit.

Keberhasilan Prancis mengalahkan Brasil ini tak lepas dari andil penyakit misterius yang menyerang mesin gol Selecao, Ronaldo pada laga final.

Ronaldo yang saat itu masih memperkuat Inter Milan tiba-tiba saja mengerang kesakitan jelang laga final saat di hotel.

Sebelumnya beredar kabar bahwa pelatih Brasil, Mario Zagallo tak akan menurunkan Ronaldo pada laga final.

Namun, keputusan berubah pada detik-detik akhir jelang laga, dengan Ronaldo tetap bermain.

Sayang pada laga pamungkas Ronaldo tampil tak seperti biasa dan kehilangan ketajamannya.

Meski Prancis sukses menjadi juara, predikat tim dengan penampilan paling mengejutkan pada Piala Dunia 1998 disandang oleh Kroasia.

Tampil sebagai negara debutan di Piala Dunia, Kroasia sukses mengakhiri turnamen sebagai peringkat ketiga dengan sukses mengalahkan negara-negara besar seperti Belanda dan Jerman.

Kejutan Kroasia dilengkapi dengan keberhasilan sang penyerang, Davor Suker meraih gelar top scorer dengan torehan enam gol.

DATA TURNAMEN

Tuan Rumah: Prancis

Waktu: 10 Juni-12 Juli 1998

Gol: 171 gol

Kontestan: 32

Jumlah Laga: 64

Pencetak Gol Terbanyak: Davor Suker (Kroasia/6 gol).

Piala Dunia 2002

Samba Digdaya di Jepang-Korea

Piala Dunia 2002 menjadi simbol kebesaran benua Asia yang untuk pertama kalinya mendapat kehormatan menggelar pesta terakbar sejagad itu.

Korea Selatan dan Jepang didapuk sebagai tuan rumah bersama.

Pertandingan dimulai pada tanggal 31 Mei dan berakhir 30 Juni 2002, diselenggarakan di 20 kota di Korea Selatan maupun Jepang.

Piala Dunia 2002 menjadi titik balik bagi Brasil menggenggam kembali Piala Dunia yang kelima kalinya dengan membekap Der Panzer Jerman 0-2 di partai final.

Brasil merupakan momok paling menakutkan di Piala Dunia 2002, menjadi tim paling mulus selama babak penyisihan Grup C.

Trisula maut Samba telah menjadi tulang punggung skuat Brasil mengarungi babak penyisihan hingga membawa mereka ke final untuk menghadapi Jerman.

Pemain seperti Ronaldo, Rivaldo serta Ronaldinho menjadi bagian pertarungan final ideal antara benua Eropa dan Amerika Latin.

Cafu menjadi pemain Brasil pertama yang pernah bermain di tiga Piala Dunia berbeda.

Pertandingan yang alot akhirnya dimenangkan Brasil dengan skor 2-0 yang dicetak Ronaldo di menit 67’ dan 79’ yang berhak mendapat sepatu emas

Asia Unjuk Gigi

Satu catatan penting dari turnamen empat tahunan terakbar tersebut adalah, pertama kalinya Benua Asia sanggup menorehkan tinta emas di pagelaran Piala Dunia

Korea Selatan menjadi tim Asia pertama yang mampu menembus semifinal meskipun harus kalah melawan Turki 2-3 diperebutan peringkat ketiga

Turki keluar sebagai tim yang berhak mendapat peringkat ketiga dengan gol cepat Hakan Sukur menjadi pemecah rekor selama pagelaran Piala Dunia 2002.

Namun, prestasi Korea Selatan tetap diacungi jempol sebagai tim yang mampu mengalahkan Italia 2-1.

Ahn Jung-wan menjadi pemain terbaik Korea Selatan, yang secara mengejutkan mampu menjungkalkan Italia untuk melaju ke perempat final.

Di babak perempatfinal, Korsel lagi-lagi mengejutkan publik dengan sanggup menjungkalkan Spanyol lewat adu penalti 5-4 sehingga berhak lolos ke semifinal.

Baru di semifinal, keberuntungan Korea Selatan harus terhenti setelah mereka takluk dengan skor tipis 1-0 atas Jerman lewat gol Michael Ballack di menit 75’.

DATA TURNAMEN

Tuan Rumah: Korea Selatan-Jepang

Waktu: 31 Mei-30 Juni 2002

Kontestan: 32 tim

Jumlah laga: 64 pertandingan

Pencetak gol Terbanyak: Ronaldo (Brasil/8 gol)

Piala Dunia 2006

Piala Dunia Paling Keras Sepanjang Sejarah

Pada tahun 2006, Jerman mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia yang 18. Namun sayang, perjuangan tuan rumah harus terhenti di semifinal setelah ditundukkan Italia dengan skor akhir 0-2.

Kerja sama tim yang bagus pada akhirnya berhasil mengantarkan Italia meraih gelar juara. Meskipun Italia diisi oleh pemain-pemain top dunia, menariknya, tidak ada pemain Gli Azzurri yang mencetak lebih dari dua gol.

Italia membuktikan bahwa kekuatan dan keseimbangan permainan-lah yang perlu dimiliki sebuah tim untuk menjadi juara. Itu dibuktikan dengan gol-gol Italia selama Piala Dunia tahun 2006 dicetak oleh 10 pemain yang berbeda. Andrea Pirlo sebagai penyeimbang permain di sektor lini tengah dan kokohnya pertahanan yang dimotori oleh Fabio Cannavaro dan Gianluigui Buffon berhasil meredam usaha lawan untuk menumbangkan mereka.

Terlepas dari pemainan impresif Italia yang akhirnya mengantarkan mereka meraih trofi Piala Dunia keempat kalinya, Piala Dunia 2006 tercatat sebagai Piala Dunia yang paling keras yang pernah ada.

Hal Itu dibuktikan dengan banyaknya kartu yang harus keluar dari saku wasit. 345 kartu kuning dan 28 kartu merah memecahkan rekor sebagai kartu terbanyak yang pernah di berikan dalam satu kali Piala Dunia sepanjang sejarah.

Yang paling parah terjadi kala Portugal saling jegal dengan Belanda dibabak 16 besar. Wasit asal Rusia, Valentin Ivanov harus memberikan 16 kartu kuning serta empat kartu merah pada pertandingan yang dihelat di Nuremberg. Tak ayal, para awak media kala itu menjuluki pertandingan yang dimenangkan Portugal dengan skor akhir 1-0 tersebut sebagai “The Battle of Nuremberd” atau Pertarungan Nuremberg.

‘Kekerasan’ di Piala Dunia 2006 mencapai puncaknya di partai final yang mempertemukan Italia dengan Prancis. Di babak kedua, kapten Prancis, Zinedine Zidane, nampak menanduk dada bek Italia, Marco Materazzi yang berujung terusirnya Zizou dari lapangan.

Hal itu sangat disayangakan oleh pendukung Prancis, mengingat pertandingan tersebut akan menjadi pertandingan terakhir Zidane sebelum gantung sepatu dari tim nasional.

Materazzi sengaja memprovokasi Zidane dengan kata-kata yang menghina keluarganya. Lantas, sang kapten naik pitam dan menanduk dengan keras dada Materazzi sampai sang bek terjatuh dan nampak kesakitan.

Zidane mengaku bahwa dirinya tidak menyesal melakukan hal itu dan tidak akan pernah memaafkan apa yang diucapkan Materazzi kepadanya.

Kesedihan Zidane dan timnas Prancis semakin dalam kala David Trezeguet gagal menyerangkan bola ke gawang Gianluigi Buffon di babak penalti dan harus merelakan gelar juara dunia ke tangan Italia setelah menang 5-3 di babak tos-tosan.

Meskipun demikian, Zizou terpilih sebagai pemain terbaik di gelaran akbar setiap empat tahun kala itu.

DATA TURNAMEN

Tuan Rumah : Jerman

Waktu : 9 Juni – 9 Juli 2006

Kontestan : 32

Jumlah laga : 54

Jumlah gol : 147

Rata-rata gol per laga : 2,30

Top scorer/jumlah gol : Miroslav Klose (Jerman)/5 gol

Piala Dunia 2010

Pesta Sepak Bola Dunia Ada di Tanah Nelson Mandela

FIFA menunjuk Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Ini adalah kali pertama pesta sepak bola terbesar dunia digelar di benua Afrika.

Sebelumnya, FIFA juga menunjuk Korea Selatan dan Jepang untuk menghelat Piala Dunia 2002, untuk menghindari dominasi benua Eropa dan Amerika yang secara bergantian menyelenggarakan kompetisi tersebut.

Sebanyak 5 negara Afrika terlebih dulu mencalonkan diri untuk menyelenggarakan Piala Dunia 2010, yaitu Mesir, Maroko, Afrika Selatan dan pencalonan tuan rumah bersama yaitu Libya dan Tunisia.

Melalui voting, akhirnya terpilih Afrika Selatan

Keputusan menunjuk Afrika Selatan sebagai tuan rumah, dinilai aneh karena hanya mengunggulkan faktor Nelson Mandela semata.

Bagaimana tidak, sepak bola di Afrika Selatan tidak sepopuler rugbi dan kriket. Prestasi timnas Afsel pun hanya dua kali masuk putaran final Piala Dunia, yaitu pada 1998 dan 2002.

Mandela menjadi faktor penting terpilihnya Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 karena kepahlawanannya melawan politik rasial, Apartheid. Ia bukan hanya menjadi representasi Afrika Selatan, tetapi juga seluruh negara di Afrika.

Penyelenggaraan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan tidak bisa lepas dari isu korupsi dalam pembangunan fasilitas-fasilitas pendukung ajang ini. Sementara itu, pada 2009 sebanyak 70.000 pekerja bangunan mogok kerja karena diduga beberapa pekerja digaji sangat rendah.

Pembangunan infrastruktur akhirnya dikebut hingga H-7 sebelum kick-off laga perdana 0.

Meski kontroversi di balik penunjukan Afsel tidak reda, akhirnya Piala Dunia 2010 tetap terlaksana. Sebanyak 32 negara berebut trofi Piala Dunia di tanah Mandela.

Banyak insiden yang terjadi di gelaran ini. Salah satunya adalah gol hantu Frank Lampard ketika Inggris melawan Jerman di babak 16 besar.

Tersingkirnya dua finalis Piala Dunia 2006, Italia dan Prancis di babak penyisihan grup, juga menjadi salah satu kabar mengejutkan yang menghiasi gelaran Piala Dunia 2010.

Akhirnya, timnas Spanyol keluar sebagai juara dunia setelah mengalahkan Belanda di partai puncak. Ini merupakan kali pertama negara Eropa menjuarai Piala Dunia saat Piala Dunia diadakan di luar Eropa.

Uniknya, Spanyol mengukir rekor unik dalam proses menuju kampiun, yaitu sejak babak knock-out, La Furia Roja memenangkan seluruh laga dengan skor 1-0 hingga final.

DATA DAN FAKTA

Tuan Rumah: Afrika Selatan

Waktu: 11 Juni-11 Juli 2010

Gol: 145

Kontestan: 32

Jumlah Laga: 64

Pencetak Gol Terbanyak: 5 Gol (David Villa/Spanyol), (Diego Forlan/Uruguay), (Thomas Mueller/Jerman), (Wesley Sneijder/Belanda)

Piala Dunia 2014

Revolusi Jerman Berbuah Trofi

Jerman tampil perkasa saat menjuarai Piala Dunia 2014. Pada partai puncak Tim Panser sukses menundukkan Argentina yang dimotori oleh megabintang Lionel Messi dengan skor 1-0.

Keperkasaan Jerman sudah tampak pada laga kontra Portugal di penyisihan grup. Cristiano Ronaldo dkk dipermalukan dengan empat gol tanpa balas.

Tuan rumah Brasil tak luput dari amukan Jerman. Pada babak semifinal, Tim Samba yang bermain tanpa Neymar dihabisi di depan publik sendiri dengan skor mencolok 1-7.

Kesuksesan Jerman ini merupakan buah kerja keras nan konsisten bertahun-tahun. Jerman yang dikenal sebagai tim spesialis turnamen menuai aib kala hanya menjadi juru kunci grup di Piala Eropa 2000, empat tahun setelahmereka menjadi pemenang di ajang sama.

Federasi Sepak Bola Jerman kala itu melihat adanya masalah pada regenerasi skuat. Pada Piala Eropa 2000, rata-rata usia skuat Jerman adalah 26,94 tahun atau hampir mencapai 27 tahun.

Dalam skuat tersebut hanya ada tiga pemain di bawah usia 23 tahun, yaitu Sebastian Diesler (19 tahun), Michael Ballack (22), dan Lars Ricken (22).

Setelah itu skuat Jerman secara konsisten terus diremajakan dimulai pada Piala Dunia 2002 (26,21 tahun), dan berlanjut ke Piala Eropa 2004 (25,97), Piala Dunia 2006 (25,47), Piala Eropa 2008 (25,08), dan Piala Dunia 2010 (23,16).

Rata-rata usia para pemain Jerman kembali naik, pada Piala Eropa 2012 (23,53) dan Piala Dunia 2014 (23,89), namun tidak mencapai angka 24 tahun. Buah revolusi tersebut adalah trofi Piala Dunia 2014, setelah Die Mannschaft mengalami paceklik titel sejak menjadi kampiun Piala Eropa 1996.

Selain sebagai ajang pertunjukkan kegemilangan Jerman, Piala Dunia 2014 menjadi panggung beberapa bintang lapangan hijau.

Lionel Messi menunjukkan kapasitasnya sebagai Pemain Terbaik Dunia dengan mengantarkan Argentina hingga final. Alhasil, gelar Golden Ball menjadi piala hiburan bagi Messi yang gagal di partai pamungkas.

Nama bintang Kolombia, James Rodriguez, ikut terangkat berkat prestasinya sebagai Top Scorer turnamen.

Selain mendapat Sepatu Emas berkat ketajamannya, James Rodriguez dipinang Real Madrid pascaturnamen. Selain itu, golnya ke gawang Uruguay pada babak 16 besar diganjar gelar Puskas Award. Selain itu Manuel Neuer (Jerman) dan Paul Pogba (Prancis) mendapat gelar Kiper Terbaik dan Pemain Muda Terbaik.

Kekalahan Lionel Messi Tulen

Pada partai final, Lionel Messi gagal menembus kokohnya pertahanan Jerman, hingga Argentina gagal mencetak satu gol pun pada laga tersebut. Jerman sejatinya juga gagal meruntuhkan pertahanan Argentina yang digalang oleh Javier Mascherano cs.

Laga final harus dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu. Petaka bagi Tim Tango datang pada menit ke-113. Mario Goetze yang baru bermain pada menit ke-88 menggantikan Miroslav Klose, mencetak gol semata wayang yang membawa Jerman menjadi kampiun Piala Dunia 2014.

Awalnya, Goetze yang menerima umpan lob dari Andre Schuerrle. Bola dikontrol dengan dada dan langsung disepak dari sudut sempit sebelah kanan gawang Sergio Romero. Bola yang tak sempat menyentuh tanah langsung merobek gawang Argentina.

Kesuksesan pemain berjuluk Lionel Messi dari Jerman itu adalah buah bisikan pelatih Joachim Loew. Pria beralias Jogi itu mengatakan," Saya memberi tahu Goetze saat istirahat di babak perpanjangan waktu,‘tunjukkan bahwa kamu lebih baik dari Messi, tunjukkan kami pemain yang lebih baik darinya dan bisa memenangkan Piala Dunia."

Benar saja, Goetze tak hanya memenangkan titel Piala Dunia, tetapi gelar Man of The Match. Sementara Messi Tulen menolak menerima piala Golden Ball.

DATA TURNAMEN

Tuan Rumah: Brasil

Waktu: 13 Juni-14 Juli 2014

Gol: 171

Kontestan: 32

Jumlah Laga: 64

Pencetak Gol Terbanyak: James Rodriguez (Kolombia/6 gol).

Selengkapnya

Kota Penyelenggara